Rabu, 09 Oktober 2013

Armin Nur


KARENA PEKERJAAN DIA LEPASKAN KERUDUNG

Armin K  Nur
Aku adalah seoarang wanita yang selalu menghiasai auratku dengan kerudung, bagiku kerudung merupakan sahabat dalam menghiasi hari – hari ku . Walaupun aku menyadarinya bahwa aku tidak seperti wanita – wanita yang cantik di luar sana, tetapi aku begitu mencintai kerudungku.
Namaku Rahma... aku dilahirkan dalam keluarga yang sederhana, dengan latar belakang  ekonomi yang pas-pasan di tambah dengan rumah bubuk yang kecil, dengan jumlah penghuni empat orang Ayah, Ibu , Ka” Vendi, dan aku. Canda dan tawa kami habiskan di dalam rumah bubuk kecil yang sempit itu, walaupun tinggal di rumah yang sempit, membuat aku dan keluargaku bahagia.  Ayah ku hari-harinya bekerja di pangkalan smer sepatu dengan pengunjungnya sedikit, sedangkan ibu keseharinya memasak, itupun kalau ada yang di masak. Ka” Vendi yang pekerjaan hari – harinya tukang antar koran, tidak perduli dengan panasnya matahari ka” vendi tetap bekerja demi mencukupi kebutuhan kami sehari –hari.
Setiap hari aku melihat mereka bekerja banting tulang tak kenal lelah demi mencukupi kebutuhan keluarga, ditamba lagi dengan biayaya kuliaku yang mencapai Rp. 1 juta persemester membuat aku bingung kemana lagi mereka mencari nafkah serta membiayayai semua perkuliahanku. akhirnya aku coba untuk minta cuti semester selama 2 tahun yang pada saat itu aku baru semester 3, itupun aku sembunyikan terhadap keluargaku. Pada akhirnya aku keluar rumah untuk mencari pekerjaan tiba – tiba aku bertemu dengan sahabatku namanya Irma.
“ Hy Ir..? Kataku......
“ Ya... Rahmah apa kabar ? sudah lama kita tidak ketemu..
“...Alhamdulillah... “ kataku dengan penuh senang dan bangga melihatnya.
“...Rahma kamu mau kemana? Katanya..
“ dengan merunduk kepala aku menjawab, mencari pekerjaan !
“.. bukanya kamu kulia ? kata Ir...”
“ iya .. tapi aku cuti dulu..” terus kamu mau kerja apa ? kata Ir...” kerja apa saja yang penting halal ...” kataku.
pada akhirnya Rahma mendapatkan pekerjaan.
Namun, pemilik tempatku bekerja melarang para pekerjanya menggunakan kerudung.
Bahkan bagi mereka yang ingin tetap mengenakannya, harus dengan legowo mengundurkan diri.
Ujian iman itu akhirnya membuat ku memilih, entah pikiran apa yang ada dibenakku, aku akhirnya menanggalkan kerudung.
iming- iming gaji dan kemudahan bekerja, serta ingatanku tentang kesusahan ayah dan ibu serta ka” vendi dirumah, membuatku berbuat nekat.
Semua aku lakukan dengan
harapan bisa bekerja ditempat tersebut.
Pertentangan hati memang kadang aku rasakan.
Namun rasa itu aku buang jauh-jauh.
Dalih ekonomi tetap menjadi alasan utamaku bekerja ditempat tersebut
Bahkan sampai saat ini.
“Jika suatu hari, Allah menghendaki aku mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, aku ingin memakai kembali kerudungku.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar