KETELADANAN SEORANG
PEMIMPIN
Kebutuhan manusia akan keteladanan
lahir dari suatu naluri yang bersemayam di dalam jiwa manusia yaitu jiwa taqlid
(peniruan). Sebagai contoh bahwa manusia yang suka meniru adalah sekelompok
anak remaja yang sedang mengalami perkembangan, ia mulai mencari orang lain
yang dapat mereka jadikan teladan (idola) sebagai ganti orang tua dan
orang-orang yang bisa menasehati mereka.
Maka manusia teladan (idola) yang
dijadikan contoh di kalangan remaja itu, biasanya membawa remaja untuk meniru
dan mengagungkan idola tersebut, apa saja yang dilakukan atau dibuat idolanya
itu, akan dipuji dan ditiru oleh remaja-remaja tersebut. Idola-idola tersebut
sangat berpengaruh pada remaja yang secara tidak langsung akan mempengaruhi
budi pekerti mereka. Seandainya yang menjadi idola itu baik, maka pengaruhnya
juga baik, tapi kalau idola tersebut tidak baik maka pengaruhnya juga tidak
baik bagi remaja itu.
Apabila
kita menjadi seorang pemimpin ataukah mendapat amanah menjadi seorang pemimpin,
maka kita harus mampu mawas diri. Tidak sombong, dan memiliki kerendahan hati.
Harus berani dikritik, dan siap menerima kecaman dari bawahan. Tetapi yakinlah
bila anda mampu memberikan keteladanan atau contoh yang baik kepada orang-orang
yang anda pimpin, maka mereka pun akan sungkan dengan anda. Merekapun akan malu
bila tak seide atau tak sependapat dengan pemimpinnya. Sebab keteladanan adalah cara jitu dalam memimpin.
Sekarang
ini, banyak pemimpin yang mau benarnya sendiri. Tak peduli dengan omongan orang
bawahan. Padahal, seorang pemimpin itu harus lebih banyak mendengar, dan melayani dengan sepenuh hati
orang-orang yang dipimpinnya. Bukan justru minta dilayani, dan banyak
ngomongnya. Itulah yang saya lihat dari karakter pejabat saat ini.
Bila
kita mampu memberikan contoh yang baik, dan satu kata antara perkataan dan perbuatan, maka orang yang dipimpin
oleh anda akan takluk dan tunduk dengan kepemimpinan anda.
Tetapi
bila anda tak banyak memberikan contoh, lalu selalu menyalahkan bawahan anda,
maka apapun yang anda katakan akan disepelekan.
Keteladanan
seorang pemimpin saat ini mungkin menjadi barang langka di negeri ini. Menjadi
pemimpin di negeri ini bukan untuk melayani, tetapi justru minta dilayani.
Kalau ada urusan duit, maka pemimpin yang seperti itu akan berdiri di depan,
dan bila tak ada duitnya dia akan lesu tak bernafsu.
Keteladanan
seorang pemimpin sebenarnya ada dalam diri kita. Misalnya bila kita beragama
Islam, maka setiap kali mendengar suara adzan
dilantunkan dari rumah Allah, maka segeralah berhenti dari pekerjaan. Lalu
lakukan sholat berjamaah.
Dengan sholat berjamaah selain pahalanya berlipat ganda, di situ ada kedisiplinan soal waktu. Kita menjadi
tepat waktu dalam menegakkan sholat. Bila pemimpin yang tak amanah, maka cuek
saja bila suara adzan terdengar. Baginya, pekerjaannya adalah Tuhannya. Contoh pemimpin yang baik adalah tepat waktu, dan tidak membiarkan
orang lain menunggu. Baginya waktu bagaikan pedang. Bila tak tepat waktu, maka
dia tak akan memberikan keteladanan yang baik. Itu baru soal waktu, dan belum
soal lainnya. Tidak mudah menjadi seorang pemimpin yang tepat waktu.
Keteladanan
adalah kunci pendidikan sepanjang masa. Siapa yang mampu memberikan contoh yang
baik, maka dia akan menjadi seorang pemimpin yang sejati. Tak perlu banyak
omong cukup keteladanan saja. Ajak orang lain dengan tindakan nyata dan bukan
kata-kata.
Menjadi
seorang pemimpin selain memberikan contoh dan tauladan yang baik, Dia juga
sudah harus siap untuk mendapatkan masukan dan saran dari bawahan ke arah
perbaikan kinerjanya. Bila ada bawahan yang mengkritiknya, justru dia
bersyukur. Bukan justru mencari-cari kesalahan orang yang mengkritiknya.
Keteladanan
seorang pemimpin akan terlihat ketika dia marah. Pada saat itulah sebenarnya musuh utamanya. “Seorang pemimpin yang tak mampu menahan
marah, maka sesungguhnya dia bukanlah seorang pemimpin”. Keteladanan
sangat kita butuhkan sekarang di semua sisi kehidupan, baik berkaitan dengan
diri sendiri, keluarga, lingkungan sekitar, sekolah, masyarakat,umat, negara
dan bangsa. Keteladanan yang kita lihat saat ini sudah mulai berkurang sehingga
tatanan negara, bangsa, umat dan keluarga akhir-akhir ini menjadi sangat buruk.
Tentu kita prihatin akan hal ini. Kita kekurangan pemimpin bangsa yang mampu
memberikan keteladanan. Solusinya
adalah mari menjadi seorang pemimpin yang mampu memberikan keteladanan, dan itu
dimulai dari diri kita sendiri. Tak perlu sibuk mencari kesalahan orang lain,
karena sesungguhnya kita yang masih banyak kekurangannya dalam memimpin.
Terutama memimpin diri kita sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar