KARENA PEKERJAAN DIA LEPASKAN KERUDUNG
Armin K Nur
Aku adalah seoarang wanita yang selalu
menghiasai auratku dengan kerudung, bagiku kerudung merupakan sahabat dalam
menghiasi hari – hari ku . Walaupun aku menyadarinya bahwa aku tidak seperti
wanita – wanita yang cantik di luar sana, tetapi aku begitu mencintai
kerudungku.
Namaku Rahma... aku dilahirkan dalam keluarga
yang sederhana, dengan latar belakang
ekonomi yang pas-pasan di tambah dengan rumah bubuk yang kecil, dengan
jumlah penghuni empat orang Ayah, Ibu , Ka” Vendi, dan aku. Canda dan tawa kami
habiskan di dalam rumah bubuk kecil yang sempit itu, walaupun tinggal di rumah
yang sempit, membuat aku dan keluargaku bahagia. Ayah ku hari-harinya bekerja di pangkalan smer
sepatu dengan pengunjungnya sedikit, sedangkan ibu keseharinya memasak, itupun
kalau ada yang di masak. Ka” Vendi yang pekerjaan hari – harinya tukang antar
koran, tidak perduli dengan panasnya matahari ka” vendi tetap bekerja demi
mencukupi kebutuhan kami sehari –hari.
Setiap hari aku melihat mereka bekerja
banting tulang tak kenal lelah demi mencukupi kebutuhan keluarga, ditamba lagi
dengan biayaya kuliaku yang mencapai Rp. 1 juta persemester membuat aku bingung
kemana lagi mereka mencari nafkah serta membiayayai semua perkuliahanku.
akhirnya aku coba untuk minta cuti semester selama 2 tahun yang pada saat itu aku
baru semester 3, itupun aku sembunyikan terhadap keluargaku. Pada akhirnya aku
keluar rumah untuk mencari pekerjaan tiba – tiba aku bertemu dengan sahabatku
namanya Irma.
“ Hy Ir..? Kataku......
“ Ya... Rahmah apa kabar ? sudah lama
kita tidak ketemu..
“...Alhamdulillah... “ kataku dengan penuh
senang dan bangga melihatnya.
“...Rahma kamu mau kemana? Katanya..
“ dengan merunduk kepala aku menjawab,
mencari pekerjaan !
“.. bukanya kamu kulia ? kata Ir...”
“ iya .. tapi aku cuti dulu..” terus
kamu mau kerja apa ? kata Ir...” kerja apa saja yang penting halal ...” kataku.
pada akhirnya Rahma mendapatkan
pekerjaan.
Namun, pemilik tempatku bekerja
melarang para pekerjanya menggunakan kerudung.
Bahkan
bagi mereka yang ingin tetap mengenakannya, harus dengan legowo mengundurkan
diri.
Ujian iman itu akhirnya membuat ku
memilih, entah pikiran apa yang ada dibenakku, aku akhirnya menanggalkan
kerudung.
iming-
iming gaji dan kemudahan bekerja, serta ingatanku tentang kesusahan ayah dan
ibu serta ka” vendi dirumah, membuatku berbuat nekat.
Semua
aku lakukan dengan
harapan
bisa bekerja ditempat tersebut.
Pertentangan
hati memang kadang aku rasakan.
Namun
rasa itu aku buang jauh-jauh.
Dalih
ekonomi tetap menjadi alasan utamaku bekerja ditempat tersebut
Bahkan
sampai saat ini.
“Jika
suatu hari, Allah menghendaki aku mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, aku
ingin memakai kembali kerudungku.